Kendala Pandemi Covid-19 hingga Berkah Pembinaan yang Lebih Baik


Pertandingan pada Virtual Wushu Championship 2020

Pelatih Rajawali Sakti, Herman Wijaya banyak bercerita tentang pembinaan olahraga prestasi di masa pandemi. Klub Rajawali Sakti yang meraih juara ‘Virtual Wushu Championship 2020’ berjuang keras meski di tengah pandemi Covid-19.

Awalnya pada Bulan Mei, ia mengaku hanya 5 orang yang ikut latihan karena khawatir terpapar Covid-19. “5 orang, padahal jumlah atlet kita 60 orang, gak sampai 10% nya”, katanya.

Penerapan protokol ketat diberlakukan oleh Herman. Mereka harus sehat dan ditelusuri juga lingkungan keluarganya, dengan harapan tidak ada yang terpapar Covid-19.

Untuk ikut latihan, Herman juga terapkan aturan khusus yakni mereka yang datang tidak boleh menggunakan kendaraan umum. Sebab, dikhawatirkan di kendaraan umum mereka membawa virus dari orang lain. “Kalau sudah tertular satu, pasti latihan tutup, program ga jalan”, ucapnya.

Jarak antar atlet juga dibatasi olehnya. Biasanya latihan dilakukan serempak namun pada masa pandemi latihan dibatasi 10 orang. Dengan pembatasan tersebut, latihan dibagi beberapa waktu atau gelombang. Di jeda antar gelombang, lokasi latihan disemprot cairan disinfektan.

Berkah kondisi juga dirasakan. Sebab dengan pembatasan orang yang berlatih, pelatih lebih fokus membina anak didiknya. Herman tempatkan 2 – 3 pelatih setiap sesi latihan sehingga jelas berbeda antara pelatih membina 40 orang sekaligus dan 10 orang. “Saat PSBB Transisi ini program terbaik untuk Rajawali Sakti”, sebutnya.

Namun begitu, ketika bertanding pada ‘Virtual Wushu Championship’, klub Rajawali Sakti harus menjalani siaran di luar Jakarta karena PSBB ketat yang diberlakukan ibu kota. Prestasi sebagai juara kejuaraan membuktikan bahwa hal tersebut bukan kendala yang berarti.