Pembinaan Atlet Butuh Dukungan, Apa Pendapat Pelatih Klub Wushu Juara Umum Virtual Wushu Championship 2020

Klub Rajawali Sakti asal Pluit, DKI Jakarta telah menutup ‘Virtual Wushu Championship 2020’ dengan 13 emas, 9 perak dan 8 perunggu. Dengan torehan tersebut, klub binaan Herman Wijaya meraih juara umum Taolu pada kejuaraan yang digelar 10 – 17 Oktober.

Sang pelatih bercerita banyak hal tentang pembinaan olahraga prestasi wushu. Di awal, ia terangkan bahwa anak didiknya latihan wushu sejak usia dini. Herman jelaskan bahwa anggota klub termuda adalah tingkat pendidikan taman kanak-kanak.

Mereka berlatih dengan program berjenjang yang disiapkan klub dan para pelatihnya. Ketika usia bertambah, proporsi latihan juga bertambah. Dengan begitu, dapat dikatakan melatih atlet Rajawali Sakti tidaklah instan, para atlet sudah menjalani rangkaian program berjenjang.

Selain itu, Herman juga sampaikan perlunya beberapa dukungan untuk mencetak atlet berprestasi. Beberapa yang diutarakannya antara lain:

Dukungan Kepada Klub

Ke depan, Herman berharap agar klub mendapatkan dukungan yang besar. Klub merupakan garda terdepan pembinaan olahraga prestasi. Di samping bersyukur atas dukungan yang didapatkannya, Herman inginkan agar seluruh klub di Indonesia mendapatkan dukungan. “Untuk menciptakan atlet ini, ujung tombaknya klub, dapat ga dukungan dari daerah, KONI Provinsi dan KONI Kabupaten/Kota?”, ujarnya.

Herman pun jelaskan dukungan yang dimaksud mulai dari perhatian pada klub, insentif pelatih, dan atlet. Perhatian kepada klub bukan hanya pemantauan namun arah pembinaan atlet. “Kalau ga diberikan, ya percuma sasana ga akan berkembang”, tegasnya.

“Pemerintah daerah dan DPRD harus membantu KONI sebagai intansi yang membantu sasana”, harapnya pada pemerintah.

Sebagai contoh, ia ceritakan dukungan yang diberikan DKI Jakarta. “Atlet kecil usia 12 tahun ke bawah dapat gaji dari program Pemda DKI Jakarta”, pujinya. Mereka mendapatkan sekitar Rp 1.300.000 dari pemerintah. “Itu bukan uangnya lho, tapi penghargaan dari pemerintah dan olahraga senang”, jelasnya tentang program penghargaan yang menurutnya baru ada di DKI Jakarta.

Tersedianya Sasana di Area Atlet

Kebutuhan lainnya adalah tersedianya tempat latihan dengan sarana prasarana lengkap di setiap daerah. Ia menjelaskan bahwa lokasi kediaman atlet dengan tempat latihan tidak boleh jauh karena mempertimbangkan efektivitas waktu tempuh.

Tetapi tempat latihan juga perlu difasilitasi berbagai sarana prasarana latihan seperti sarung tinju, lantai untuk latihan dan sebagainya. Ternyata Wushu memiliki merek lokal yang kerap digunakan bernama ‘Mark’. Hal tersebut adalah upaya mendukung industri olahraga lokal.

Pentingnya Dukungan Psikologis Atlet

Dukungan Psikologis juga menjadi penting bagi Herman. Ia ceritakan masa lalunya, ketika bersama anak-anak didiknya jalani pemusatan latihan di Beijing, Cina selama 3 bulan. Kala itu, mereka terus berlatih. “Itu harus programkan, misalnya latihan satu bulan, bikinlah satu hari ke puncak, ke gunung atau liat kota”, menurutnya.

“Di situ kita ga boleh ngomongin latihan supaya mereka tidak jenuh”, jelasnya. Ia pun berargumen bahwa otak akan letih jika terus berlatih tanpa rekreasi. “Tiap hari ketemu karpet, tiap hari ketemu samsak, tiap hari keringetan, bosen”, sebutnya.

“Semua atlet itu mau jadi juara, ngapain dia pelatnas kalau ga mau juara, tinggal kita buat program”, terangnya menjelaskan pentingnya memperhatikan tingkat stres atlet.

Di samping itu, psikologis juga akan meningkat ketika petinggi organisasi olahraga prestasi mengunjungi klub tempat berlatih. Herman mengimpikan suatu hari kelak, Ketua Umum Komite Olahraga Nasional Indonesia (KONI) Pusat berkunjung ke Rajawali Sakti guna memberikan dukungan mental kepada anak didiknya.