PON XX di Papua Berkaitan dengan Nasionalisme dan Kebersamaan Bangsa Indonesia

Sebentar lagi, Pekan Olahraga Nasional (PON) XX 2021 di Papua akan segera digelar. Perhelatan akbar olahraga nasional empat tahunan tersebut akan dibuka secara resmi oleh Presiden Joko Widodo pada Tanggal 2 Oktober mendatang dan akan resmi ditutup Tanggal 15 Oktober oleh Wakil Presiden Ma’ruf Amin.

Dalam rangka menyambut PON XX yang tinggal hitungan hari, suatu diskusi virtual digelar pada Tanggal 13 September 2021. Diskusi virtual bernama Forum Merdeka Barat 9 (FMB 9) diselenggarakan dengan judul ‘Bangun Nasionalisme dan Kebersamaan’.

Pada kesempatan tersebut, dibahas peran penting olahraga yang berkaitan dengan nasionalisme dan kebersamaan. “Olahraga menjadi salah satu sarana untuk membangun semangat kebersamaan dan semangat persatuan,” ujar Ketua Majelis Permusyawaratan Rakyat (MPR) RI Bambang Soesatyo yang hadir sebagai narasumber secara virtual.

Ketika membahas olahraga, tidak ada batasan perbedaan yang ada di antara manusia. “Seluruh anak bangsa tanpa memandang suku ras dan agama. Akan bersatu dalam satu pertandingan.  Oleh karena itu, peran olahraga ini sangat penting jadi jangan pandang sebelah mata perannya,” kata pria yang akrab disapa Bamsoet.

Semangat olahraga dan juga berolahraga dipercaya dapat mencegah radikalisme. Bamsoet juga tegaskan prestasi olahraga dapat membuat suatu negara dipandang unggul. “Kehebatan sebuah negara selain militer, juga kehebatan olahraganya,” jelas pria yang juga Ketua Umum PP. Ikatan Motor Indonesia (IMI) dan Ketua Umum PB. Keluarga Besar Olahraga Tarung Derajat (Kodrat).

Menteri Pemuda dan Olahraga (Menpora) Zainudin Amali juga sepakat dengan pentingnya peran olahraga jika dikaitkan dengan nasionalisme dan kebersamaan. “Selain 4 Pilar Kebangsaan yang digencarkan MPR, olahraga juga penting,” tegasnya sembari menjelaskan bahwa prestasi olahraga Indonesia dapat membuat bendera Merah Putih dikibarkan dan Lagu Indonesia Raya dikumandangkan di luar negeri, selain kegiatan kenegaraan.

Sayangnya, olahraga masih belum dianggap sebagai investasi dalam membangun karakter anak bangsa. “Selama ini, kita masih menempatkan biaya olahraga sebagai cost padahal itu sejatinya adalah investasi,” ujar Menpora.

Ketua Umum Komite Olahraga Nasional Indonesia (KONI) Pusat Letjen TNI (Purn.) Marciano Norman yang hadir secara virtual juga sepakat dengan Ketua MPR RI dan Menpora terkait peran penting olahraga jika dikaitkan dengan nasionalisme dan kebersamaan. Olahraga tak dapat dipisahkan dengan sejarah perjuangan Bangsa Indonesia melawan kolonialisme, termasuk multi event olahraga nasional.

Pada Tahun 1938, Ikatan Sport Indonesia (yang merupakan cikal bakal KONI) menggelar Pekan Olahraga ISI di Surakarta tanggal 15 – 22 Oktober 1938. Perhelatan olahraga tersebut bukanlah hanya pertandingan olahraga tapi juga memiliki nilai kebangsaan dan nasionalisme. Sebab, tujuan penyelenggaraannya adalah untuk menunjukkan jati diri serta ikatan emosional Bangsa Indonesia sebagai satu bangsa, dan melawan diskriminasi kolonial Hindia Belanda.

PON Pertama di Solo 9 – 12 September 1948

Setelah Indonesia Merdeka, olahraga juga masih terkait erat dengan nasionalisme. Indonesia menggelar Pekan Olahraga Nasional (PON) pertama Tahun 1948 di Solo dengan maksud menunjukkan eksistensi Indonesia sebagai negara berdaulat kepada dunia internasional. Kala itu Indonesia masih mempertahankan kemerdekaan dari Belanda. Presiden Soekarno menyampaikan dalam pidatonya bahwa para atlet tidak hanya hadir untuk berolahraga tapi juga menunjukkan ‘semangat kemerdekaan yang menyala-nyala’.

Di masa sekarang ini, ketika masyarakat di seluruh dunia perang melawan Covid-19, KONI Pusat berharap agar PON XX Tahun 2021 menjadi momentum kebangkitan Bangsa Indonesia bangkit dari Pandemi Covid-19. Oleh karenanya, KONI Pusat bersama Panitia Besar PON XX berusaha sebaik-baiknya PON XX sukses.

“Kondisi saat ini sudah pada posisi 95% baik itu yang pertama dari kesiapan Venuenya, kesiapan alat peralatan yang akan digunakan, kemudian kesiapan kontingen yang akan berangkat ke Papua maupun kesiapan Panitia Besar PON yang mengatur, di samping kesiapan venuenya, menyiapkan akomodasinya, menyiapkan transportasinya kemudian juga mempersiapkan masyarakatnya untuk mereka bisa menjadi tuan rumah yang baik,” kata Marciano Norman sampaikan laporan.

Mengingat PON XX tahun ini menjadi yang pertama dan akan menjadi momentum kebangkitan dari Pandemi Covid-19, maka penerapan protokol kesehatan ketat menjadi perhatian semua pihak. “Olimpiade Tokyo itu sukses, salah satunya karena penerapan protokol kesehatan secara ketat karena apa karena kita melaksanakan event ini (PON XX) di masa pandemi Covid-19,” jelasnya.

“di Papua kita lihat bahwa pemerintah berusaha maksimal untuk menekan tingkat paparan Covid-19 secara nasional, oleh karenanya kita lihat sekarang bahwa status wilayah sudah banyak yang turun dari semula merah menjadi kuning dan hijau,” sambung Ketua Umum KONI Pusat.

Ketua Umum KONI Pusat mengajak seluruh Masyarakat Indonesia mendukung sukseskan PON XX. “Mereka (Masyarakat Papua) selalu bilang keberhasilan PON XX Papua adalah harga dirinya Masyarakat Papua, saya menambahkan bahwa itu adalah harga dirinya Bangsa Indonesia. Oleh karenanya, mari kita sama-sama menjadikan PON XX Papua ini PON yang dikenang karena prestasinya, karena tata kelolanya yang begitu baik, dan juga menunjukkan kepada dunia bahwa Indonesia mampu bangkit dari pandemi Covid-19,” ajak Marciano.

Redaktur olahraga Boy Noya yang juga hadir secara virtual mendukung untuk sukseskan PON XX. Menurutnya media memiliki andil besar yang luar biasa, terlihat pada Olimpiade dan Paralimpiade Tokyo. “Kita harus kompak melakukan pemberitaan yang bagus, sehat dan konstruktif,” ujarnya. Ia pun menilai bahwa antusiasme penonton Indonesia sebagai salah satu potensi yang dapat dimanfaatkan juga oleh media.

Kebersamaan Masyarakat Indonesia perlu diarahkan untuk mendukung suksesnya PON XX sebagai momentum Kebangkitan Bangsa Indonesia dari Pandemi Covid-19 dan juga momentum persatuan Bangsa Indonesia melalui olahraga oleh masyarakat Papua.