Lainnya
Membangun Fondasi Atlet Unggul melalui Kolaborasi Nutrisi, Edukasi, dan Program Pembinaan Atlet Junior
26 August 2025
Membangun Fondasi Atlet Unggul melalui Kolaborasi Nutrisi, Edukasi, dan Program Pembinaan Atlet Junior

Dalam upaya meningkatkan kualitas atlet nasional, Komite Olahraga Nasional Indonesia (KONI) Pusat terus memberikan perhatian serius terhadap program pembinaan atlet usia dini. Salah satu elemen penting dalam mempersiapkan atlet unggulan adalah gizi/nutrisi sebagai fondasi tubuh atlet.

Salah satu kunci keberhasilan dalam pembinaan adalah penerapan nutrisi yang tepat dan terstruktur. Nutrisi yang ideal menjaga kondisi fisik atlet agar tetap prima, sehingga mampu menampilkan performa maksimal dan daya saing atlet dalam berbagai ajang kompetisi.

“Penting bagi kita untuk mengembangkan keterampilan pelatih dan program pembinaan atlet usia dini agar mereka tumbuh dengan sistem yang baik dan benar,” ujar Emilia E. Achmadi, MS., RDN, Ahli Gizi Klinis, Manajemen Pencegahan Penyakit, dan Nutrisionis Olahraga.

Pernyataan itu disampaikan Emilia saat di terima audiensi dengan Ketum KONI Pusat Letjen TNI Purn Marciano Norman, pada Selasa, 26 Agustus 2025 di Kantor KONI Pusat, Senayan, Jakarta.

Ketum KONI Pusat, Letjen TNI Purn Marciano Norman, menegaskan bahwa peran KONI di seluruh penjuru Indonesia Kabupaten/Kota sangat besar, terutama dalam mendampingi dan memastikan para atlet mendapat pembinaan menyeluruh. Ia menekankan bahwa banyak atlet berprestasi dunia berasal dari daerah.

“KONI sebagai induk organisasi cabang olahraga terus melakukan berbagai terobosan dalam peningkatan kualitas atlet dan pelatih. Apa yang disampaikan Bu Emilia sangat tepat: semua berawal dari sistem yang terstruktur agar pembinaan berjalan lancar. Kabupaten/Kota menjadi kunci awal karena dari sanalah atlet-atlet juara dunia bermula,” jelas Ketum KONI Pusat.

Sebagai langkah awal konkret, KONI Pusat bersama Emilia akan merancang program pemantauan nutrisi intensif terhadap 2–5 atlet potensial sebagai model. Program ini akan melibatkan klub, dokter, dan ahli gizi terbaik, dengan harapan hasil akhirnya menjadi standar baru dalam sistem pembinaan atlet nasional.

“Kolaborasi lintas sektor sangat penting. Dukungan dari Bu Emilia terhadap KONI akan lebih maksimal jika kita memiliki satu program yang sama, seperti edukasi nutrisi. Makanan atlet tidak perlu mewah, yang terpenting adalah kandungan nutrisi yang terstruktur dan sesuai kebutuhan fisik atlet,” tambah Marciano.

Pendekatan yang lebih menyeluruh, nutrisi dan psikologi juga akan dijadikan literasi wajib dalam ajang Olimpiade Olahraga Siswa Nasional (O2SN). Hal ini akan membuka ruang edukasi yang lebih luas, tidak hanya kepada atlet, tetapi juga kepada orang tua dan sekolah, mulai dari tingkat sekolah dasar (SD).

Pada September mendatang, Bidang Sport Science KONI Pusat di bawah kepemimpinan Dr. Lilik Sudarwati A., S.Psi., M.Hum. berencana menyelenggarakan seminar besar yang menghadirkan para dokter, psikolog, ahli gizi, dan pakar nutrisi. Forum ini diharapkan menjadi momen penting untuk memperkuat sinergi dan menyampaikan edukasi secara menyeluruh kepada seluruh pemangku kepentingan olahraga nasional.

Salah satu contoh nyata dari pendekatan nutrisi yang berhasil adalah atlet renang nasional I Gede Siman, yang mendapat dukungan penuh dari sponsor dalam proses pembinaannya. Siman bahkan difasilitasi untuk mengikuti Training Camp (TC) di luar negeri.

“Anggaran dari sponsor maupun pemerintah harus dimanfaatkan dengan tepat dan tidak disia-siakan. Dengan kolaborasi yang baik, kita bisa menyasar titik yang tepat agar program pembinaan berjalan maksimal,” tegas Ketum KONI Pusat.

Dengan komitmen dan kolaborasi lintas sektor, pembinaan atlet berbasis nutrisi dan edukasi diharapkan mampu melahirkan generasi atlet unggul yang siap bersaing di tingkat nasional maupun internasional.